Contoh Aplikasi Teori Akuntansi Pendekatan Semiotika Eco Umberto (Apollo, Prof. Dr, M.Si.Ak, CIFM, CIABV, CIBG)
Pengertian Umum Semiotika
Semiotics (Semiotika) adalah studi yang tidak hanya merujuk pada
tanda (signs) dalam percakapan
sehari-hari, tetapi juga segala sesuatu yang merujuk pada bentuk-bentuk lain
seperti words, images, sounds, gesture,
dan objects. Di antara semua jenis
tanda, yang terpenting adalah kata-kata. Kata-kata digunakan sebagai tanda dari
suatu konsep atau ide. Dalam hal ini, ada satu tujuan komunikasi yang harus
diingat, yakni bahwa tanda bermakna sesuatu.
Semiotika
merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda. Konsep tanda ini melihat bahwa
makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi antara yang ditandai
(signified) dan yang menandai (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu
bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan
kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”.
Pendekatan Semiotika Menurut Umberto Eco
Menurut
Umberto Eco (dalam Zaimar, 2008: 11), semiotik berkaitan dengan semua yang
dapat dianggap sebagai tanda. Tanda adalah segala sesuatu yang secara maknawi
dapat dianggap menggantikan sesuatu yang lain. Menurut Eco, tanda dapat
digunakan untuk menyatakan kebenaran sekaligus kebohongan. Semiotika menaruh
perhatian pada apapun yang dinyatakan sebagai tanda. Sebuah tanda adalah semua
hal yang dapat diambil sebagai penanda yang mempunyai arti penting untuk
menggantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tersebut tidak perlu harus
ada, atau tanda itu secara nyata ada di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.
Dengan demikian semiotika pada prinsipnya adalah suatu disiplin yang
mempelajari apapun yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu kebohongan. Jika
sesuatu itu tidak dapat digunakan untuk menyatakan kebohongan, sebaliknya tidak
bisa digunakan untuk menyatakan kebenaran.
Menurut Eco (Sobur :
2001) ada dua macam dalam membedakan semiotika yaitu :
1. Semiotika komunikasi: Produksi tanda yang
menekankan pada teori tentang tanda, faktor dalam komunikasi diantaranya
penerima, sistem tanda, pesan, saluran, pengirimin, dan acuan.
2. Semiotika signifikasi: Bertujuan sebuah
proses penerimaan dan komunikasi. (Sobur: 2006).
Dalam novel
karyanya “The Name Of Rose” disebutkan bahwa didalamnya memuat teks-teks
idealisme karena semua teks mengacu pada yang lain, bukan pada realitas
eksternal. Tidak ada teks yang akhirnya menetapkan apa pun tentang dunia di
luar dirinya. Menurut Eco
menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajah hutan, dan ingin memusatkan
perhatian pada modifikasi sistem tanda. Ini sebagai pendorong guna mengganti
konsep tanda dengan konsep fungsi tanda. Suatu “perihal ekspresi” bisa
dihubungkan dengan “perihal isi” yang berbeda-beda. Dalam kasus bahasa Inggris
untuk kata plane, Eco melihat tiga
fungsi tanda: “alat tukang kayu”, “dataran”, dan “pesawat terbang”. disimpulkan
bahawa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang bisa ditawar, melainkan suatu
tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem
berbeda dari dua tingkat yang berbeda dan bertemu atas dasar hubungan
pengkodean)”.
Kajian
semiotika membedakan dua jenis semiotika, yakni semiotika komunikasi dan
semiotika signifikasi (Eco dan Hoed dalam Sobur, 2003). Semiotika komunikasi
menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya
mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima
kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang
dibicarakan) serta memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam
suatu konteks tertentu. Semiotika signifikasi tidak mempersoalkan adanya tujuan
berkomunikasi. Yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga
proses kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan dari pada proses
komunikasinya.
Menggunakan tanda untuk mengirim
makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut.
Syaratnya komunikator dan komunikan harus mempunyai bahasa atau pengetahuan
yang sama terhadap sistem tanda tersebut agar komunikasi lancar. Contoh:
|
Signifier |
Signified |
|
Kata “Pohon” |
Tanaman
Besar |
|
Bungan Mawar |
Tanda
Cinta |
Ilmu semiotik bentuk pragmatisme (kebermanfaatan) dapat
menafsirkan atas laba akuntansi pada tataran sintaktik maupun semantik
merupakan faktor yang melandasi persepsi mereka tentang kebermanfaatan
informasi laba pada tataran pragmatik. Dalam kepentingan dan kebutuhan praksis
para informan, kebermanfaatan informasi laba akuntansi adalah: (a) alat bantu
untuk memahami realitas ekonomik; (b) dasar pengambilan keputusan keuangan; dan
(c) indikator likuiditas perusahaan. Keterpaksaan informan penelitian ini untuk menerima prinsip akuntansi
yang terkait dengan penetapan laba merupakan penanda (signifier) yang merujuk pada suatu realitas, yaitu adanya
’’hegemoni” dalam praktik akuntansi. Hegemoni merupakan suatu keadaan yang
dicirikan oleh adanya praktik untuk mendominasi serta mengendalikan pihak lain
dalam segala aspek untuk mencapai kepentingan tertentu.
Pemahaman akuntan pada konsep laba akuntansi merupakan
’’jejak” atau pretext yang mendasari penafsiran mereka atas laba akuntansi.
Berdasarkan ciri-ciri esensial setiap elemen laporan keuangan, akuntan memahami
bahwa laba akuntansi tidak selalu merepresentasikan aliran kas masuk neto yang
diperoleh perusahaan dalam periode pelaporan, bahkan aliran kas masuk neto
tersebut mungkin tidak benar-benar ada ketika laba akuntansi dilaporkan, tidak
benar-benar ada di masa lalu, dan tidak benar-benar ada di masa depan. Oleh
karena itu, dalam ’’jejak” pengalaman akuntan, laba akuntansi hanyalah label
perubahan realitas ekonomik perusahaan.
Comments
Post a Comment